Wednesday, 29 November 2017

Alam, Perjalanan menjadi kebersamaan

Sore nan Indah di ujung kota Manado. Molas punya cerita, kebersamaan kita dari yang Muda dan juga yang Tua. Rihla di balut dalam nuansa Silahturahmi dan kebersamaan. Tak mengenal siapa kita tetapi tentang bagaimana kebersamaan mampu kita ciptakan bersama lewat tafakur Alam. Api unggun, petikan gitar dan juga iringan lagu lagu malam menambah suasana hangat yang dingin di pingir pantai. bertukar ide dan gagasan lewat lingkaran. Menjadi hal ihwal yang tak bisa di lewatkan.

Sebagai orang yang baru bergabung di Rimba Hijau Hitam tentunya baru pertama merasakan Rihla ini. Bagus dan bukan hanya menjadi kegiatan yang berlabel silaturahmi. Tetapi lebih dari pada mengenal satu dan lainya. Karakter bahkan jiwa seseorang mampu kita ketahui lewat kegiatan ini. Dan juga saling terbukanya perkenalan antara yang Tua dan yang muda. Dalam artian siapa yang lebih dahulu menanjak di Rimba Hijau Hitam akan saling mengenal dengan kita yang baru menanjak.

Tentunya bukan hanya sekedar bersantai santai dan juga bermain main. Rihla mengajarkan kita bahwa Alam punya waktu tersendiri untuk kita nikmati. Dikala otak dan waktu tidak bersinergi dengan tubuh. Dikala waktu dan kesempatan banyak kita buang dengan hal hal tidak berguna. Maka di sinilah kita curahkan semua itu, nikmati sedikit waktu untuk bersama, menciptakan suasana kekeluargaan dan kebersamaan yang Indah bersama Alam.

Aoutbond menjadi hal terakhir dikala semua kita nikmati. Mengajarkan kita arti kebersamaan yang sebenarnya. Mengapa demikian? Yah karena kekompakan kelompok adalah contoh dari sebuah organisasi yang baik. Organisasi ketika tidak lagi kompak maka ada kecangungan dari setiap pertemuan. Maka melalui Rihla inilah kekompakan kita di uji dengam games games yang menarik untuk menyatukan kekompakan antar kelompok tersebut.

Akhir dari tulisan ini adalah. Jadikan kebersamaan menjadi salah satu hal ihwal yang harus dan wajib. Agar setiap permasalahan permasalahan mampu kita pecahkan bersama meski dalam suasana yang berbeda. Contohnya bersama Alam Semesta. Karena Silahturahmi tidak harus bersifat formal bahkan megah dan mewah yang terpenting adalah bagaimana kita mampu ciptakan hal dalam silaturahmi tersebut. Karena barang siapa yang memutus tali silahturahmi maka ditutup pintu surga baginya.

Monday, 13 November 2017

Goresan Sejarah Jilid I

Desa kopandakan adalah sebuah desa yang ada di Kotamobagu. Tepatnya di Kotamobagu Selatan. Pada awalnya, desa kopandakan adalah sebuah desa yang bernama "ibulu" dimana desa ini terletak antara mokoit dan tondoit. Yang pada tahun 1700-1705, dipimpin oleh seorang kepala suku yang disebut juga "Dadangkat". Pada saat itu kondisi desa masih belum tertata. Rumah rumah penduduknya berbentuk rumah gedang yang terletak tidak beraturan dan saat itu hanya terdapat sedikit pemukiman warga yaitu hanya ada 13 unit saja. Serta jumlah penduduk 265 orang dan belum memiliki ataupun menganut agama tertentu.

Kemudian pada tahun 1715-1740 desa ini dipindahkan ke sebelah Timur. Dengan nama "ibongkuda". yang pada saat itu, jumlah penduduknya 322 orang dengan jumlah pemukiman warga berjumlah 22 unit rumah. Pada tahun 1740, kemudian berpindah lagi kesebelah Barat dengan Nama desa "kobio". Yang bertahan sampai pada tahun 1800 dengan jumlah penduduk bertambah menjadi 450 orang dengan jumlah pemukiman warga 45 unit rumah. Kemudian pada tahun 1800-1815, sebagian penduduk berpindah ke Tungoi sehingga hanya tersisa 192 orang penduduk dan 37 unit rumah yang ada di desa itu.

Memasuki tahun 1815-1860, pemerintah dipimpin oleh kepala suku "makasa" dengan bentuk sebuah perkampungan. Kemudian, dirubah namanya menjadi "Iloluang" dengan jumlah rumah penduduk menjadi 73 unit dan jumlah penduduk 165 orang. Sejak tahun 1860, penduduk di desa tersebut sudah memeluk agama Islam.

Tahun 1860-1870, pemerintah dipimpin oleh kepala suku "Ongking" dan nama desa berubah menjadi "Itapa". Pada saat itu,  jumlah rumah sudah menjadi 96 unit. Dan jumlah penduduknya mencapai 700 orang dan yang memeluk agam Islam 51 orang.

Pada tahun 1870-1900, pemerintah dipimpin oleh "simbuludon". Beliau dikenal kuat, berani dan baik hati. Pada saat itu, jumlah penduduk berjumlah 860 orang serta pemukiman warga berjumlah 103 unit rumah. Pada zaman ini, jumlah pemeluk agama islam mencapai 70 orang. Sehingga beberapa umat sudah mulai mendirikan tempat peribadatan. Atas persatuan umat islam, mereka mendirikan tempat ibadah sederhana di tepi sungai Kope yang biasa disebut "Langar".

Dari tahun 1900-1908, perkampungan atau desa mulai berkembang dengan cepat. Sehingga menjadi besar dan bahkan menjadi dua bagian. Desa "Kobio" dan desa "Panta". Maka dengan sendirinya,  pemerintah pun menjadi dua bagian. Desa kobio di pegang oleh Simbuludon dan desa panta di pegang oleh Hukung Antoni. Dan pada masa itu, jumlah penduduk sudah mencapai 925 orang serta penganut agama Islam berjumlah 185 orang. Penganut agama Kristen berjumlah 65 orang dan sisanya belum memeluk agama sama sekali.

Pada zaman Simbuludon dan Hukung Antoni ini, terdapat banyak peristiwa peristiwa bersejarah di desa. Yaitu
-Tahun 1901 Belanda masuk ke Bolaang Mongondow.
-Tahun 1906 tanggal 20 Agustus,  sekolah didirikan Di desa untuk pertama kalinya.
-Pembakaran kampung oleh penduduk yang bernama Konge. Menghanguskan seluruh rumah Gadang (Rumah panggung).

Tahun 1908-1910 Kobio dan Panta disatukan kembali menjadi satu desa yaitu desa "Kope" dibawah pemerintah "Ujun Tungkagi". Kemudian pada Tahun 1910-1911 pemerintah berganti dipimpin oleh "Ali Oli". Pada dua masa tersebut, rumah penduduk berjumlah 140 unit. Dan jumlah penduduk 1006 orang. Penganut Agama Islam 185 orang dan Agama Kristen 78 orang. Sisanya belum memeluk Agama sama sekali.
Dan pada tahun 1911 desa "Kope" diganti kembali dengan Nama "Kopandakan" sampai dengan sekarang ini.

Sumber: Goresan Tinta Sejarah yang ditulis oleh Alm. Aba Lando Manoppo (Papi Opol)

Jilid-I

Sunday, 5 November 2017

HALLO KAWAN?

Tulisan ini saya tulis kepada mereka yang pernah menjadi kawan dan lawan dalam pertemanan. Jujur saja, hari ini mungkin ada yang melupa. Ketika di persimpangan berjumpa tapi tak menyapa. Ketika kata hay hanya di dalam hati saja. Kawan, jangan mengenang hanya karna kedekatan saja. Tapi kenanglah karna kita pernah bersama. Bukan soal pernah menjadi lawan, tapi soal pernah berkawan. Karna pertemanan tak selamanya dikenang. Ia harus di lupa agar ada kerisauan dalam dada untuk menyapa. Siapa saya dan bagaimana saya pernah bersama kalian. Tidak perlu lagi untuk berpura pura menyapa. Karna pada dasarnya lebih baik memenjarakan suasana. dibanding harus melepaskannya hanya untuk sekedar menyapa dusta.

Hallo kalian para sarjana muda, sudahkan kalian bekerja? Atau sudahkan kalian menikah? Saya hanya ingin bertanya saja. Mungkin ada yang melupa siapa saya. Tapi tak mengapa, karna lebih baik kita mengingat dari pada melupa. Soal siapa dan siapa. Biar ingatan saja yang mulai mengupas logika ingatan kita. Bicara soal mengenang, mungkin hari ini logika saya mulai terbuka. Satu persatu perjalanan kuliah saya mulai terbuka. Dari awal hingga akhir mulai teringat kembali. Saat menulis akhir semester lalu. Saya ingin kembali menyapa mereka dengan tulisan. Tak bagus. tapi hanya sedikit dari kita yang mulai hobi untuk menulis. Meluangkan waktu bersama selembar kertas dan secungkil pensil biar nanti bisa di hapus di kemudian hari. Karena tak selamanya kita di kenang melainkan siapa yang membaca kembali.

Tulisan ini hanyalah sepintas dari saya untuk menyapa. Kira kira masih ada yang kenal atau tidak. Yah tidak mengapa. Karena dari awal mungkin saya tidak pernah menyapa hanya menjadi kawan saja. Jujur saja melihat mereka hari ini yang banyak mengenang moment saat kebersamaan, timbul pertanyaan dalam benak saya. Mengapa tidak ada yang mengenang moment moment pertemanan bersama saya? Atau mereka sudah lupa? Atau atau atau lainya. Sudahlah. Biarkan tanya ini menjawab di suatu waktu. Disuatu suasana. Ketika ada hal yang ingin di tanya, dan ketika waktu itu malu untuk menyapa siapa saya dan siapa saya. Mungkin saja. Biarkan saja.

Pertemanan memang mengasikan. ketika semua moment yang pernah kita jalani bersama, kembali untuk kita kenang. Tapi terasa percuma. ketika siapa yang kita kenal duluan lalu yang terkenang hanya mereka yang dikenal di akhir saja. Pemahaman saya hari ini, yang masih menjadi mahasiswa. mungkin mereka mengenang hanya karna mereka sederajat. Sesarjana, seagama. Dan bahkan sebanyak uang yang mereka punya. Mungkin saja. Karena melihat dinamika hari ini, yang terjadi yah begitu begitu saja. Mengenang moment pertemanan, hanya melihat mereka dan mereka saja. Tanpa melihat kita sebagian dari mereka. Mungkin ada yang merasa seperti saya, tanpa harus mengungkapkannya. Karena mereka sadar, kita memang tidak pernah sejalan dari awal. Kita tidak seharmonis yang selalu di suarakan. Bukan maksud untuk menyindir tapi kenyataan mengatakan demikian.

Akhir kata dari tulisan saya ini adalah, hari ini mungkin kalian mengenang satu persatu tanpa melibatkan semua. Karena kedekatan emosional yang berbeda. Karena persamaan suku ras dan agama. Karena persamaan siapa lawan dan siapa kawan yang sebenarnya. Tapi ingat dan ingat. Jangan pernah melihat kebelakang, ketika hal demikian yang kalian tinggalkan. Tetapi lebih di pandang di kemudia hari, lebih di angkat di kemudian hari. Dan lebih di hormati di kemudian hari. Karena itu semua akan ada pada satu titik waktu kenangan yang sesunguhnya. Bukan hari ini, dan ini bukanlah awal untuk mengenang. Tetapi masih ada waktu yang berputar di kemudian hari. Karna hari ini adalah besok yang kemarin dan kemarin adalah hari esok yang masih tertunda.

Tepat ke-29 tahunya sudah kalian bersama. Mengarungi bahtera rumah tangga yang banyak di terpa masalah masalah. Tapi tetap kokoh dan bersama...